Jangan Asal Scrub! Ini Cara Eksfoliasi Wajah yang Aman

No comments

Jangan Asal Scrub! Ini Cara Eksfoliasi Wajah yang Aman

Kulit terasa kasar, tampak kusam, atau dipenuhi komedo memang sering membuat kita ingin menggosok wajah sekuat mungkin. Padahal, kulit yang bersih dan halus tidak diperoleh dengan mengikisnya secara berlebihan. Eksfoliasi wajah harus dilakukan dengan metode, produk, dan frekuensi yang sesuai agar tidak mengganggu skin barrier atau lapisan pelindung alami kulit.

Pada dasarnya, eksfoliasi adalah proses mengangkat sel kulit mati dari lapisan terluar kulit. Ada dua metode utama yang biasa digunakan, yaitu eksfoliasi mekanis dan eksfoliasi kimiawi. Eksfoliasi mekanis memakai alat atau butiran scrub, sedangkan eksfoliasi kimiawi menggunakan bahan seperti alpha hydroxy acid atau AHA dan beta hydroxy acid atau BHA untuk membantu melepaskan sel kulit mati.

Walaupun dapat membuat permukaan kulit terasa lebih halus, eksfoliasi bukan langkah perawatan yang wajib untuk semua orang. Karena jika dilakukan secara agresif atau terlalu sering, proses ini justru dapat menimbulkan kemerahan, rasa perih, kulit kering, dan memperburuk jerawat. Karena itu, sebelum mulai melakukan eksfoliasi wajah, kamu perlu memahami kondisi kulitmu terlebih dahulu.

Cara Kerja Eksfoliasi Wajah

Lapisan terluar kulit secara alami melepaskan sel-sel lama melalui proses yang disebut deskuamasi. Eksfoliasi membantu proses tersebut dengan melepaskan sel kulit mati yang masih menumpuk di permukaan. Hasilnya, tekstur kulit dapat terasa lebih halus dan warna kulit terlihat lebih merata.

Namun, eksfoliasi tidak berarti “mengelupas kulit sampai bersih”. Tujuan utamanya adalah membantu pergantian sel pada permukaan tanpa melukai jaringan sehat di bawahnya. Sehingga seharusnya, tidak ada sensasi perih atau panas. Maka jika, produk eksfoliasi wajah yang kamu gunakan justru menimbulkan sensasi menyengat yang kuat, panas, atau rasa seperti terbakar kamu sangat dianjurkan untuk segera menghentikan penggunaannya.

Karena jika dilakukan dengan tepat, eksfoliasi wajah sejatinya dapat membantu:

  • Menghaluskan permukaan kulit.
  • Mengurangi tampilan kulit kusam.
  • Membantu membersihkan pori-pori yang tersumbat.
  • Membuat pori-pori tampak lebih samar.
  • Membantu mengatasi komedo dan beberapa jenis jerawat ringan.
  • Membantu produk pelembap bekerja lebih baik pada permukaan kulit.

Eksfoliasi memang dapat membuat pori-pori terlihat lebih samar, tetapi tidak bisa menghilangkan pori-pori secara permanen. Menggosok atau memencet kulit malah dapat menyebabkan peradangan sehingga pori-pori terlihat semakin jelas.

Macam-macam Eksfoliasi Wajah

Secara umum, eksfoliasi wajah terbagi menjadi eksfoliasi fisik (mekanis) dan kimiawi. Keduanya bekerja dengan cara berbeda dan tidak selalu cocok untuk kondisi kulit yang sama.

Eksfoliasi fisik (mekanis)

Eksfoliasi fisik atau mekanis memakai gesekan untuk mengangkat sel kulit mati. Contohnya meliputi:

  • Produk scrub dengan partikel halus.
  • Spons atau bantalan pembersih.
  • Sikat wajah.
  • Kain wajah yang lembut.
  • Mikrodermabrasi oleh tenaga profesional.

Metode ini dapat memberikan sensasi halus secara langsung. Akan tetapi, tekanan berlebihan atau partikel yang terlalu kasar dapat menyebabkan iritasi. American Academy of Dermatology menyarankan agar eksfoliasi mekanis dilakukan dengan gerakan ringan, bukan dengan menggosok kulit sekuat mungkin.

Eksfoliasi kimiawi

Eksfoliasi kimiawi menggunakan zat tertentu untuk membantu melonggarkan ikatan antarsel kulit mati. Bahan yang sering ditemukan dalam produk perawatan wajah antara lain:

  • AHA, seperti glycolic acid dan lactic acid.
  • BHA, terutama salicylic acid.
  • PHA atau polyhydroxy acid.
  • Enzim tertentu dalam produk kosmetik.

Sebutan “kimiawi” tidak otomatis berarti berbahaya. Keamanan produk tetap bergantung pada jenis bahan, konsentrasi, pH, formulasi, cara penggunaan, dan kondisi kulit orang yang memakainya.

Pilih Produk Eksfoliasi Wajah yang Sesuai dengan Jenis Kulit

Tidak ada satupun produk eksfoliasi wajah yang cocok untuk semua orang. Produk yang nyaman pada kulit berminyak belum tentu bisa ditoleransi oleh kulit kering atau sensitif.

Kulit berminyak

Kulit berminyak biasanya lebih rentan mengalami penumpukan sebum dan penyumbatan pori-pori. Produk dengan BHA, khususnya salicylic acid, dapat menjadi pilihan terbaik karena bahan ini dapat membantu melepaskan sel yang menyumbat folikel serta memecah komedo hitam dan putih.

Meski begitu, kulit berminyak tetap bisa mengalami dehidrasi dan kerusakan skin barrier. Hindari anggapan bahwa rasa kesat atau tertarik setelah mencuci wajah merupakan tanda kulit sudah benar-benar bersih.

Kulit kering

Untuk kulit kering, pertimbangkan eksfoliator ringan yang mengandung lactic acid atau formulasi AHA berkadar rendah. Setelah eksfoliasi, gunakan pelembap untuk membantu mengurangi kehilangan air dan mempertahankan fungsi lapisan pelindung kulit.

Jangan memakai scrub kasar pada kulit yang sedang pecah-pecah, mengelupas, atau terasa perih. Bahan asam juga dapat menyengat bila diaplikasikan pada kulit yang tergores atau mengalami keretakan.

Kulit sensitif

Kulit sensitif sebaiknya memulai dari produk dengan formulasi sederhana dan frekuensi yang rendah. Pilih produk tanpa pewangi, lalu lakukan patch test sebelum mengaplikasikannya ke seluruh wajah.

Jika kulitmu mudah memerah, rasa gatal sering muncul, atau hampir semua produk terasa menyengat, jangan terburu-buru menggunakan bahan aktif. Kondisi tersebut perlu dibedakan dari rosacea, eksim, dermatitis kontak, atau gangguan skin barrier.

Kulit berjerawat

Untuk kulit berjerawat, salicylic acid dapat membantu membuka sumbatan di folikel. Namun, menggosok jerawat dengan scrub kasar dapat meningkatkan iritasi dan memicu kondisi kulit semakin meradang.

Gunakan produk berlabel non-comedogenic atau tidak mudah menyumbat pori. Jika jerawat terasa nyeri, meninggalkan bopeng, berbentuk benjolan besar, atau tidak membaik dengan perawatan dasar, konsultasikan dengan dokter spesialis kulit.

Kenali Berbagai Bahan Aktif dalam Produk Eksfoliasi Wajah

Membaca komposisi bahan aktif yang ada dikemasan produk jauh lebih penting daripada memilih produk berdasarkan klaim dapat “mencerahkan kulit dalam semalam”. Berikut beberapa bahan eksfoliasi yang umum ditemukan.

AHA

AHA bekerja terutama pada permukaan kulit. Contoh yang paling umum ialah glycolic acid dan lactic acid. AHA membantu melonggarkan zat yang menyatukan sel-sel kulit di permukaan sehingga sel lama dapat terlepas lebih mudah.

Bahan ini sering digunakan untuk membantu mengatasi tekstur kasar, warna kulit tidak merata, dan tanda penuaan ringan. Namun, produk berkonsentrasi tinggi tidak selalu memberi hasil yang lebih baik dan berpotensi meningkatkan iritasi.

BHA

BHA yang paling dikenal adalah salicylic acid. Dalam perawatan jerawat, bahan ini membantu mengurangi penumpukan sel di dalam folikel serta melonggarkan komedo.

BHA sering dipilih untuk kulit berminyak dan rentan komedo. Apabila muncul rasa menyengat berkepanjangan atau iritasi, hentikan pemakaian dan segera periksakan diri ke dokter spesialis kulit.

PHA

PHA memiliki ukuran molekul yang relatif lebih besar sehingga sering dipasarkan sebagai pilihan yang lebih lembut. Meski demikian, label “lembut” tidak menjamin bahwa produk tersebut pasti cocok dengan kulitmu. Formulasi akhir dan kondisi kulit tetap menentukan toleransinya.

Enzim

Eksfoliator berbasis enzim biasanya menggunakan enzim buah untuk membantu memecah protein pada sel kulit mati. Produk ini dapat menjadi alternatif, tetapi bahan alami tetap mungkin menimbulkan iritasi atau alergi pada sebagian orang.

Mulailah Eksfoliasi Wajah Secara Bertahap

Kesalahan yang umum terjadi adalah langsung menggunakan eksfoliator setiap hari. Kulit membutuhkan waktu untuk menunjukkan apakah suatu produk dapat ditoleransi atau tidak.

Untuk itu, pertimbangkan beberapa langkah berikut:

  1. Mulai dari satu kali seminggu.
  2. Gunakan satu produk eksfoliasi dalam satu waktu.
  3. Amati kondisi kulit selama beberapa minggu.
  4. Tingkatkan frekuensi hanya jika kulit tidak mengalami iritasi.
  5. Selalu ikuti petunjuk yang tertera pada kemasan.

Tidak ada aturan frekuensi yang berlaku mutlak. Jadwal eksfoliasi wajah sepenuhnya dipengaruhi oleh jenis kulit, kekuatan produk, dan metode yang digunakan. Secara umum, semakin agresif metodenya, semakin jarang penggunaannya.

Kamu juga tidak perlu memaksakan eksfoliasi ketika kulit sudah terasa nyaman dengan rutinitas sederhana. Karena lebih sering bukan berarti lebih efektif.

Jangan Lupa Untuk Melakukan Patch Test Terlebih Dahulu

Sebelum memakai produk baru di seluruh wajah, lakukan patch test pada area kecil. Langkah ini tidak bisa memprediksi seluruh kemungkinan reaksi, tetapi dapat membantu mendeteksi iritasi atau alergi lebih awal.

American Academy of Dermatology menyarankan produk perawatan kulit diuji pada area kecil, seperti bagian bawah lengan atau lipatan siku, dua kali sehari selama tujuh hingga sepuluh hari. Gunakan produk dengan jumlah dan durasi kontak seperti saat pemakaian normal.

Jika muncul kemerahan, gatal, bengkak, atau rasa terbakar, bersihkan produk dan jangan lanjutkan pemakaian.

Perlu diketahui bahwa patch test mandiri berbeda dari pemeriksaan patch testing medis. Pemeriksaan medis dilakukan oleh dokter untuk membantu mencari zat pemicu dermatitis kontak alergi.

Cara Melakukan Eksfoliasi Wajah yang Benar

Cara Melakukan Eksfoliasi Wajah yang Benar

Cara memakai produk sama pentingnya dengan kandungan yang dipilih. Berikut urutan dasar eksfoliasi wajah pada malam hari:

  1. Bersihkan wajah menggunakan pembersih yang lembut.
  2. Keringkan wajah dengan menepuknya perlahan.
  3. Gunakan eksfoliator sesuai petunjuk produk.
  4. Hindari kelopak mata, sudut hidung, bibir, dan kulit yang terluka.
  5. Lanjutkan dengan pelembap yang nyaman.
  6. Gunakan tabir surya pada pagi berikutnya.

Jika menggunakan scrub, aplikasikan dengan gerakan melingkar kecil selama sekitar 30 detik, kemudian bilas menggunakan air suam-suam kuku. Jangan menggunakan air yang terlalu panas karena dapat memperburuk iritasi.

Untuk produk leave-on, jangan dibilas kecuali petunjuk kemasan mengatakan sebaliknya. Jangan pula memakai produk dalam jumlah berlebihan dengan harapan hasilnya akan muncul lebih cepat.

Jangan Campur Produk Eksfoliasi Wajah Sembarangan

Menggabungkan terlalu banyak bahan aktif dapat meningkatkan risiko kulit kering dan iritasi. Perhatian khusus diperlukan bila kamu sudah memakai:

  • Retinol atau retinoid resep.
  • Benzoyl peroxide.
  • AHA atau BHA lain.
  • Produk jerawat yang membuat kulit mengelupas.
  • Pembersih dengan butiran abrasif.
  • Produk berkadar alkohol tinggi.

American Academy of Dermatology mengingatkan bahwa retinoid, retinol, dan benzoyl peroxide dapat membuat kulit lebih sensitif atau mengelupas. Sehingga menambahkan eksfoliator berpotensi memperburuk kekeringan dan iritasi.

Jika ingin menggunakan dua bahan aktif, kamu dapat menjadwalkannya pada malam yang berbeda. Namun, keputusan terbaik tetap bergantung pada jenis produk dan toleransi kulit. Jika kamu termasuk pengguna obat jerawat yang diresepkan sebaiknya diskusikan terlebih dahulu kombinasi produk dengan dokter.

Setelah Melakukan Eksfoliasi Wajah, Jangan lupa Pakai Pelembap

Eksfoliasi dapat membuat kulit lebih kering. Karena itu, pelembap sebaiknya digunakan setelah proses eksfoliasi untuk mempertahankan hidrasi dan mendukung fungsi skin barrier.

Pilih tekstur pelembap yang sesuai kebutuhan:

  • Gel ringan untuk kulit yang sangat berminyak.
  • Lotion untuk kulit normal atau kombinasi.
  • Krim untuk kulit kering.
  • Krim atau salep tanpa pewangi untuk kulit sangat sensitif.

Kandungan seperti gliserin, ceramide, dan asam hialuronat dapat membantu menjaga kelembapan.

Perlu dicatat, bahwa penggunaan pelembap tidak akan mengurangi manfaat eksfoliasi wajah. Sebaliknya, langkah ini justru membantu mengurangi rasa kering, tertarik, dan tidak nyaman yang mungkin muncul setelah penggunaan eksfoliator.

Selain itu, Kamu Wajib Pakai Sunscreen

Penggunaan tabir surya sangat penting, khususnya jika kamu memakai produk eksfoliasi wajah dengan bahan aktif AHA. FDA menjelaskan bahwa AHA dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar ultraviolet selama pemakaian dan sampai sekitar satu minggu setelah penggunaannya dihentikan.

Untuk itu, pilih tabir surya dengan kriteria berikut:

  • Perlindungan broad-spectrum terhadap UVA dan UVB.
  • SPF minimal 30.
  • Tahan air bila kamu banyak berkeringat atau berenang.
  • Nyaman digunakan dalam jumlah memadai.

Tabir surya perlu diaplikasikan kembali kira-kira setiap dua jam saat kamu beraktivitas di luar ruangan, serta setelah berenang atau berkeringat.

Jangan berharap eksfoliasi akan mengatasi kulit kusam jika kamu justru mengabaikan penggunaan sunscreen. Sebab paparan ultraviolet yang terus-menerus dapat memicu warna kulit tidak merata dan mempercepat munculnya tanda penuaan.

Hindari Over-Exfoliation

Over-exfoliation adalah kondisi ketika kulit dieksfoliasi lebih kuat atau lebih sering daripada kemampuannya untuk recovery. Kondisi ini dapat merusak lapisan pelindung kulit dan membuat wajah lebih reaktif terhadap produk yang sebelumnya tidak bermasalah.

Tanda-tandanya dapat berupa:

  • Kemerahan yang menetap.
  • Kulit terasa panas atau terbakar.
  • Perih saat terkena air atau pelembap.
  • Kulit mengilap tetapi terasa sangat kering.
  • Pengelupasan berlebihan.
  • Gatal atau bengkak.
  • Jerawat kecil yang muncul mendadak.
  • Kulit terasa kencang setelah mencuci wajah.

Jika gejala tersebut muncul, hentikan sementara semua eksfoliator yang kamu gunakan. Dan jangan mencoba “memperbaiki” pengelupasan dengan menggunakan scrubbing tambahan. Apabila keluhan terasa berat, muncul luka atau lepuhan, atau tidak mereda setelah produk dihentikan, konsultasikan dengan dokter spesialis kulit.

Kenali Kondisi Berisiko

Ada beberapa keadaan ketika eksfoliasi wajah sebaiknya dihentikan atau dilakukan hanya setelah mendapat arahan dari dokter spesialis kulit.

Jangan mengeksfoliasi kulit yang sedang:

  • Terbakar matahari.
  • Memiliki luka terbuka.
  • Mengalami infeksi.
  • Mengalami ruam aktif.
  • Sangat merah dan terasa panas.
  • Baru menjalani tindakan dermatologis.
  • Mengalami kekambuhan eksim atau rosacea.

Pada rosacea, bahan seperti glycolic acid dan lactic acid dapat mengiritasi sebagian penderita. AAD juga menyarankan penderita rosacea menghindari menggosok atau memijat wajah secara agresif.

Orang dengan warna kulit lebih gelap atau yang mudah mengalami noda hitam setelah peradangan perlu lebih berhati-hati. Eksfoliasi agresif dapat meningkatkan risiko perubahan pigmentasi setelah iritasi.

Produk chemical peel berkekuatan tinggi juga tidak sama dengan eksfoliator rumahan biasa. AAD memperingatkan bahwa beberapa produk chemical peel rumahan dapat menyebabkan cedera serius dan sebaiknya digunakan hanya di bawah pengawasan dokter.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Ada beberapa kebiasaan yang terlihat sepele, tetapi dapat membuat hasil eksfoliasi tidak optimal, yaitu:

1. Menganggap perih itu normal

Sedikit sensasi geli mungkin terjadi pada produk tertentu, tetapi rasa terbakar kuat bukan ukuran efektivitas. Segera bilas apabila kulit terasa sangat panas, sakit, atau menyengat berkepanjangan.

2. Menggosok jerawat aktif

Jerawat bukan kotoran yang perlu digosok sampai terangkat. Gesekan berlebihan dapat memperburuk inflamasi dan membuat jerawat semakin merah.

3. Menggunakan banyak produk

Toner AHA, serum BHA, retinol, dan scrub yang digunakan dalam malam yang sama dapat memberi beban berlebihan pada kulit. Mulailah dengan satu bahan aktif agar kamu bisa mengetahui produk mana yang memberikan manfaat atau justru menimbulkan reaksi.

4. Mengabaikan petunjuk produk

Konsentrasi bahan aktif dan aturan penggunaan setiap produk berbeda. Jangan menggunakan produk lebih sering, lebih lama, atau dalam jumlah lebih banyak daripada petunjuk yang tertera pada kemasan.

5. Tidak memakai tabir surya

Eksfoliasi tanpa perlindungan ultraviolet dapat membuat kulit lebih mudah mengalami kemerahan atau terbakar, terutama saat menggunakan AHA.

Jadwal Eksfoliasi Wajah Sederhana

Berikut contoh jadwal eksfoliasi wajah sederhana bagi kamu yang baru ingin memulainya. Jadwal ini bukan resep medis dan tetap perlu disesuaikan dengan reaksi kulitmu.

Pagi hari

  1. Pembersih wajah lembut.
  2. Pelembap.
  3. Tabir surya broad-spectrum SPF 30 atau lebih.

Malam biasa

  1. Pembersih wajah lembut.
  2. Serum hidrasi bila diperlukan.
  3. Pelembap.

Malam eksfoliasi

  1. Pembersih wajah lembut.
  2. Satu produk eksfoliasi.
  3. Pelembap.

Mulailah 1x dalam seminggu. Jika setelah beberapa minggu tidak muncul iritasi, frekuensi dapat disesuaikan secara perlahan berdasarkan petunjuk produk. Jangan menambah frekuensi hanya karena hasil belum terlihat dalam beberapa hari.

Pertanyaan Umum

Apakah eksfoliasi harus dilakukan setiap hari?

Tidak. Kebutuhan setiap kulit berbeda, sedangkan pemakaian harian dapat terlalu agresif bagi banyak orang. Frekuensinya harus disesuaikan dengan kekuatan produk, metode eksfoliasi, dan toleransi kulit.

Apakah kulit sensitif boleh dieksfoliasi?

Boleh pada kondisi tertentu, tetapi harus sangat hati-hati. Mulailah dari formulasi ringan, lakukan patch test, dan hentikan penggunaan jika kulit memerah, gatal, bengkak, atau terasa terbakar. Orang dengan rosacea atau eksim aktif sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

AHA atau BHA, mana yang lebih baik?

Keduanya memiliki fungsi berbeda. AHA lebih banyak bekerja di permukaan dan sering dipilih untuk tekstur kasar atau warna kulit tidak merata. BHA seperti salicylic acid dapat membantu mengatasi penyumbatan folikel serta komedo.

Apakah eksfoliasi dapat menghilangkan bekas jerawat?

Eksfoliasi ringan mungkin membantu menyamarkan noda warna yang tertinggal setelah jerawat, tetapi tidak dapat menghilangkan jaringan parut dalam atau bopeng. Bekas jerawat cekung dan menonjol biasanya memerlukan evaluasi serta tindakan medis khusus.

Kapan harus menemui dokter?

Temui dokter jika eksfoliasi wajah menyebabkan bengkak berat, lepuhan, luka, nyeri, ruam yang meluas, atau perubahan warna yang menetap. Pemeriksaan juga dianjurkan bila kamu memiliki jerawat berat, rosacea, eksim, atau sedang menggunakan obat kulit resep.

Artikel Lainnya

Bagikan:

djnand

Dear GOD, Thank you so much for all Your stupid blessing to stupid people like me :)

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.