Sifilis (Penyakit Raja Singa): Penyebab, Gejala dan Cara Mengobatinya

No comments

Sifilis (Penyakit Raja Singa): Penyebab, Gejala dan Cara Mengobatinya

Sifilis atau yang dimasyarakat lebih dikenal dengan Penyakit Raja Singa merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang bisa disembuhkan, tetapi dapat menyebabkan masalah kesehatan serius bila terlambat ditangani. Penyakit ini seringkali mengecoh karena luka awalnya dapat tidak terasa sakit sama sekali, gejalanya pun dapat menghilang dengan sendirinya. Hal inilah yang membuat sebagian orang bahkan tidak menyadari bahwa dirinya tengah terinfeksi. Sebab hilangnya luka atau ruam bukan berarti bakteri sudah lenyap dari tubuh.

Penyebab Sifilis sendiri adalah bakteri Treponema pallidum. Penularannya paling sering terjadi melalui kontak langsung dengan luka infeksius saat melakukan hubungan seks baik vaginal, anal, maupun oral; infeksi juga dapat berpindah dari ibu hamil kepada janin. WHO memperkirakan ada sekitar 8 juta orang dewasa berusia 15-49 tahun yang mengalami infeksi baru Sifilis pada 2022, sehingga penyakit ini tetap menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang nyata.

Kabar baiknya, diagnosis dini dan antibiotik yang tepat dapat menyembuhkan infeksi serta menghentikan penularan. Namun, pengobatan tidak selalu mampu memperbaiki kerusakan organ yang sudah terjadi. Karena itulah, kalau kamu memiliki gejala, pernah terpapar, sedang hamil, atau merasa berisiko untuk tertular penyakit ini dari pasangan, kamu dianjurkan untuk segera melakukan pemeriksaan medis.

Penyebab Sifilis

Penyakit ini merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh Treponema pallidum. Bakteri tersebut memasuki tubuh terutama melalui selaput lendir atau kulit yang mengalami luka sangat kecil saat terjadi kontak dengan lesi Sifilis.

Siapa pun yang aktif secara seksual dapat tertular. Risiko tidak dapat dinilai hanya dari penampilan, kebersihan, orientasi seksual, atau status hubungan seseorang. Pasangan yang terlihat sehat tetap mungkin memiliki Sifilis karena infeksi laten umumnya tidak menimbulkan gejala yang tampak.

Hal yang juga penting: pernah sembuh dari Sifilis tidak membuat kamu kebal. Jika kembali terpapar oleh pasangan yang sedang terinfeksi, kamu dapat mengalami reinfeksi. Karena itu, pengobatan Sifilis umumnya perlu disertai pemeriksaan pasangan, perubahan perilaku seksual yang lebih aman, dan tes ulang sesuai anjuran dokter.

Penularan Sifilis

Sifilis menular terutama melalui kontak langsung dengan luka atau lesi infeksius ketika melakukan hubungan seksual baik vaginal, anal, maupun oral. Luka dapat berada di penis, vulva, vagina, anus, rektum, bibir, atau rongga mulut. Karena letaknya kadang tersembunyi dan tidak menimbulkan nyeri, orang yang terinfeksi bisa saja tidak menyadari adanya sumber penularan dalam dirinya.

Sifilis juga dapat ditularkan dari ibu hamil kepada janin melalui plasenta dan menurut WHO, dapat berpindah melalui transfusi darah yang tidak aman. Penularan seksual paling sering terjadi pada fase awal penyakit, ketika lesi mengandung banyak bakteri.

Namun, kamu tidak akan tertular Sifilis hanya karena menggunakan dudukan toilet, gagang pintu, kolam renang, bak mandi, pakaian, atau alat makan bersama. Pemahaman ini penting agar orang dengan Sifilis tidak dikucilkan. Yang dibutuhkan adalah perawatan medis dan dukungan, bukan stigma negatif di masyarakat.

Gejala Sifilis

Sifilis biasanya dibagi menjadi empat tahap yakni: primer, sekunder, laten, dan tersier. Pembagian tahap ini akan membantu tenaga kesehatan menentukan pemeriksaan, terapi, dan pemantauan yang sesuai.

Tahap primer

Tanda yang paling khas adalah adanya satu atau beberapa luka di tempat bakteri masuk. Luka ini umumnya bulat, terasa padat, dan tidak nyeri, walaupun tampilannya tidak selalu sama pada setiap orang. Luka dapat bertahan sekitar 3-6 minggu lalu sembuh dengan sendirinya, tetapi infeksi tetap ada dan dapat berlanjut ke tahap berikutnya.

Tahap sekunder

Pada tahap ini dapat muncul ruam yang seringkali tidak gatal, termasuk di telapak tangan atau telapak kaki. Keluhan lain dapat berupa demam, sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, penurunan berat badan, luka di mulut atau area genital, serta kerontokan rambut berpola bercak. Umumnya, gejala yang muncul bersifat ringan dan dapat hilang dengan sendirinya, tetapi itu bukan tanda bahwa Sifilis sudah sembuh.

Tahap laten

Tahap laten adalah periode ketika tidak ada tanda atau gejala klinis yang terlihat. Sehingga dibutuhkan pemeriksaan darah, untuk mengetahui ada tidaknya bakteri Treponema pallidum dalam tubuh seseorang. Fase ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

Tahap tersier

Sebagian infeksi yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi Sifilis tersier setelah bertahun-tahun. Komplikasinya dapat mengenai pembuluh darah, jantung, otak, saraf, mata, dan organ lain. Kerusakan pada tahap lanjut dapat cukup berat, menetap, bahkan mengancam nyawa.

Saraf, mata, dan telinga bisa terdampak

Neurosifilis, Sifilis okular, dan otosifilis tidak hanya terjadi pada fase paling akhir (tahap tersier). Melainkan dapat muncul pada tahap mana pun. Gejala neurologis dapat berupa perubahan perilaku atau kesadaran, gangguan ingatan, sakit kepala menetap, kelemahan, kebas, gangguan berjalan, meningitis, atau gejala menyerupai stroke.

Sifilis okular dapat menyebabkan mata merah atau nyeri, penglihatan kabur, munculnya bintik atau kilatan pada pandangan, penurunan ketajaman penglihatan, sampai kebutaan permanen. Otosifilis dapat menimbulkan telinga berdenging, vertigo, atau gangguan pendengaran yang muncul secara tiba-tiba dan berkembang cepat pada salah satu atau kedua telinga.

Kalau kamu memiliki hasil tes Sifilis reaktif disertai perubahan penglihatan, gangguan pendengaran, sakit kepala berat, kelemahan anggota tubuh, kebingungan, atau tanda neurologis lain, segera cari pertolongan medis. Kondisi tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut.

Diagnosis Sifilis

Dokter biasanya akan menilai riwayat seksual, waktu kemungkinan paparan, keluhan yang dirasakan, pemeriksaan fisik, riwayat terapi sebelumnya, kehamilan, serta hasil laboratorium. Karena Sifilis dapat menyerupai banyak penyakit kulit atau bahkan tidak bergejala, diagnosis tidak seharusnya dibuat hanya dengan melihat foto luka atau ruam.

Diagnosis dugaan biasanya membutuhkan dua kelompok tes darah. Tes nontreponemal seperti RPR atau VDRL akan membantu proses skrining dan menghasilkan titer yang dapat dipakai untuk memantau respons terapi. Sementara tes treponemal, seperti TP-PA atau pemeriksaan antibodi treponema lain, digunakan untuk membantu mengonfirmasi paparan terhadap T. pallidum.

Hasil dari satu tes saja belum dapat dijadikan acuan untuk menentukan kondisi keseluruhan pasien. Tes treponemal dapat tetap reaktif sangat lama, bahkan setelah pengobatan berhasil, sehingga tidak cocok dipakai sendirian untuk menilai kesembuhan atau reinfeksi. Pemantauan umumnya memakai perubahan titer tes nontreponemal, idealnya dengan metode yang sama dan laboratorium yang sama agar hasil dapat dibandingkan secara konsisten.

Di Indonesia, pedoman Kementerian Kesehatan menempatkan tes nontreponemal dan treponemal sebagai bagian penting diagnosis. Bila tes cepat treponemal reaktif, RPR kuantitatif dapat dilakukan untuk memperoleh nilai awal dan mengevaluasi respons pengobatan.

Waktu Tes Perlu Diperhatikan

Tes sebaiknya dipertimbangkan jika kamu memiliki luka atau ruam yang mencurigakan, pernah berhubungan seksual dengan orang yang didiagnosis Sifilis, memiliki pasangan baru atau beberapa pasangan, melakukan hubungan seksual tanpa kondom, atau memperoleh diagnosis infeksi menular seksual lain. Tes juga penting bila pasangan memberitahukan adanya hasil pemeriksaan reaktif.

Tubuh butuh waktu untuk membentuk antibodi setelah terpapar infeksi. Jadi, jika kamu langsung melakukan tes tak lama setelah berhubungan seksual, hasilnya bisa saja negatif (nonreaktif) meski bakteri sebetulnya sudah masuk. Pedoman Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa hasil serologi nonreaktif perlu diulang dua minggu setelah ditemukannya kemungkinan luka atau chancre, bergantung pada penilaian klinis.

Bagaimana jika hasilnya reaktif? Hasil tes positif perlu diperiksa lebih lanjut oleh dokter. Dokter akan melihat kombinasi dari hasil tes, kadar infeksi (titer), gejala di tubuhmu, riwayat pengobatan sebelumnya, dan risiko paparan ulang. Pada kasus tertentu, dokter juga mungkin perlu mengambil sampel cairan dari luka atau cairan tulang belakang untuk memastikan kondisi medismu.

Antibiotik Dapat Menyembuhkan

Sifilis dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotik yang tepat. Penisilin G parenteral merupakan terapi pilihan untuk berbagai tahap Sifilis, sedangkan jenis sediaan, dosis, frekuensi, dan lama terapi umumnya ditentukan oleh tahapan penyakit serta ada tidaknya keterlibatan saraf, mata, telinga, atau kehamilan.

Jangan menggunakan sisa antibiotik orang lain, membeli obat berdasarkan unggahan dimedia sosial, atau meniru resep orang lain. Regimen untuk Sifilis dini tidak selalu sama dengan Sifilis laten lanjut, Sifilis dengan durasi yang tidak diketahui, maupun neurosifilis. Terapi obat yang tidak sesuai justru dapat menyulitkan interpretasi tes lanjutan.

Setelah terapi dimulai, sebagian pasien dapat mengalami reaksi Jarisch–Herxheimer: demam, menggigil, sakit kepala, dan nyeri otot yang biasanya muncul dalam beberapa jam serta mereda dalam sekitar 24 jam. Reaksi ini memang tidak menandakan bahwa kamu alergi penisilin, tetapi tetap harus diberitahukan kepada tenaga kesehatan terutama bila kamu sedang hamil atau gejalanya berat.

Antibiotik memang dapat membunuh bakteri, tetapi tidak dapat memperbaiki kerusakan permanen yang sudah terjadi pada otak, mata, telinga, jantung, atau saraf. Inilah alasan utama untuk melakukan tes dan pengobatan sedini mungkin.

Pasangan Juga Perlu Menjalani Pemeriksaan

Pasangan Juga Perlu Menjalani Pemeriksaan

Mengobati satu orang tanpa mengevaluasi pasangan membuka peluang terjadinya penularan bolak-balik. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan menyarankan agar kamu memberi tahu pasangan seksualmu supaya mereka juga bisa diperiksa dan diobati oleh tenaga medis.

Beritahu pasangan tanpa menghakimi atau menyalahkannya, misalnya: “Aku baru tes dan hasilnya positif sifilis. Dokter nyaranin kamu ikut tes juga biar kita sama-sama aman dan tenang.” Jika merasa malu, takut, atau sulit bicara secara langsung, kamu bisa meminta bantuan petugas di klinik atau puskesmas untuk membantu memberi tahu pasanganmu secara pribadi.

Hindari berhubungan seksual sampai kamu dan pasanganmu selesai menjalani pengobatan dan dinyatakan aman oleh dokter. Secara umum, disarankan untuk tidak berhubungan seksual (atau setidaknya wajib pakai kondom) sampai seluruh pengobatan selesai, ditambah jeda minimal 7 hari setelahnya. Namun, selalu ikuti arahan khusus dari doktermu.

Tes Ulang Tetap Diperlukan

Selesai menerima suntikan atau obat bukan berarti rangkaian perawatan langsung berakhir. Tenaga kesehatan perlu memastikan gejala membaik dan titer tes nontreponemal turun sebagaimana diharapkan. Jadwal kontrol mungkin akan berbeda tergantung tahapan penyakit, status HIV, kehamilan, kemungkinan reinfeksi, serta pedoman klinis yang digunakan.

Pedoman klinis di Indonesia menganjurkan penggunaan reagen dan laboratorium yang sama dalam pemantauan, dengan jadwal yang dapat mencakup bulan ke-1, 3, 6, 9, dan 12 sampai tes menjadi nonreaktif atau mencapai titer rendah yang stabil. Pasien dengan risiko reinfeksi tinggi mungkin memerlukan pemeriksaan lebih sering.

Semua orang yang didiagnosis Sifilis juga sebaiknya ditawarkan untuk menjalani tes HIV karena faktor risiko penularannya dapat saling berkaitan. CDC secara khusus menganjurkan tes HIV pada pasien Sifilis, termasuk mereka dengan neurosifilis, Sifilis okular, atau otosifilis.

Kehamilan Membutuhkan Perhatian Khusus

Sifilis pada ibu hamil dapat menular kepada janin dan menyebabkan Sifilis kongenital. Dampaknya dapat mencakup gangguan pertumbuhan, kelahiran prematur, lahir mati, kematian bayi, atau masalah kesehatan berat setelah lahir. Risiko penularan kepada janin paling tinggi terjadi pada tahap Sifilis primer dan sekunder, tetapi infeksi pada tahap lain tetap perlu ditangani.

Kementerian Kesehatan menganjurkan semua ibu hamil menjalani tes Sifilis sedini mungkin, setidaknya pada kunjungan antenatal pertama sebelum usia kehamilan 16 minggu, kemudian mengulangnya pada awal trimester ketiga atau tiga bulan setelah pemeriksaan sebelumnya.

BSatu-satunya obat yang direkomendasikan WHO untuk ibu hamil adalah suntikan Benzathine penicillin G. Obat ini terbukti efektif mencegah penularan ke janin. Jika kamu memiliki alergi terhadap penisilin, dokter akan melakukan penanganan khusus (desensitisasi) agar obat tetap bisa masuk dengan aman. Jangan pernah mengganti obat ini dengan antibiotik lain tanpa petunjuk dokter.

Jika hasil tes kamu positif saat hamil, segera periksakan diri meski tidak merasakan gejala apa pun. Makin cepat diobati, makin besar peluang untuk melindungi kesehatanmu dan janin yang ada di dalam kandunganmu.

Langkah Pencegahan Sifilis

Pencegahan Sifilis paling efektif dilakukan dengan beberapa kebiasaan yang saling melengkapi:

  • Pakai kondom dengan benar dan konsisten. Kondom dapat mengurangi risiko, tetapi lesi atau luka sifilis yang berada di luar area yang tertutup kondom tetap bisa menularkan infeksi.
  • Tes bareng pasangan. Kamu tidak bisa menebak seseorang terkena sifilis atau tidak hanya dari penampilan fisik atau ada tidaknya gejala.
  • Saling setia (monogami). Risiko jauh lebih rendah jika kamu dan pasangan hanya berhubungan satu sama lain, dan keduanya sudah tes dengan hasil negatif.
  • Batasi jumlah pasangan seksual. Makin sering berganti pasangan, makin besar risiko tertular tanpa disadari.
  • Hindari aktivitas seksual ketika ada luka, ruam, atau lesi yang belum jelas. Segera lakukan pemeriksaan.
  • Ikuti skrining kehamilan. Tes dan pengobatan pada ibu hamil adalah kunci utama mencegah janin tertular sifilis.
  • Lakukan tes IMS lain dan HIV. Memeriksa kesehatan reproduksi secara berkala membantu mendeteksi infeksi lain sedini mungkin.

Mitos yang Beredar Dimasyarakat

“Lukanya sudah hilang, berarti sembuh”

Keliru. Luka primer dan ruam sekunder memang dapat menghilang dengan sendirinya, namun bakteri tetap berada dalam tubuh. Hanya pemeriksaan dan pengobatan yang tepat yang dapat memastikan infeksi telah ditangani.

“Sifilis hanya menyerang kelompok tertentu.”

Keliru. Siapa saja yang aktif secara seksual bisa tertular. Risiko ini berkaitan dengan kebiasaan seksual dan penggunaan alat kontrasepsi, bukan soal nilai moral seseorang.

“Kondom memberi perlindungan 100%”

Tidak sepenuhnya benar. Kondom sangat efektif mengurangi risiko, tetapi luka sifilis yang berada di luar area yang tertutup kondom tetap bisa menularkan infeksi.

“Sekali sembuh, tidak akan tertular lagi”

Keliru. Pengobatan hanya menyembuhkan infeksi yang ada saat itu dan tidak memberikan kekebalan seumur hidup. Kamu tetap bisa tertular kembali jika terpapar lagi.

“Jika hasil tes masih reaktif berarti pengobatan yang dilakukan selama ini gagal”

Keliru. Beberapa jenis tes darah memang bisa tetap positif meski kamu sudah sembuh. Dokter akan melihat riwayat, gejala, dan kadar infeksi (titer) untuk memastikan apakah kamu sudah sembuh atau belum.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera datangi Puskesmas, klinik IMS, dokter kulit dan kelamin, dokter kandungan, atau fasilitas kesehatan lain bila kamu mengalami salah satu kondisi berikut:

  • Muncul luka tidak nyeri pada alat kelamin, anus, bibir, atau mulut.
  • Ada ruam tanpa sebab yang jelas, terutama pada telapak tangan atau telapak kaki.
  • Pasangan seksual didiagnosis atau memiliki hasil tes Sifilis reaktif.
  • Kamu mendapat hasil RPR, VDRL, TP Rapid, TPHA, atau tes treponemal yang reaktif.
  • Kamu sedang hamil dan belum pernah menjalani tes Sifilis.
  • Ada gangguan penglihatan, pendengaran, vertigo, kebingungan, kelemahan, kebas, atau gejala seperti stroke.

Makin cepat kamu datang, makin mudah dokter menentukan tindakan yang tepat untuk mencegah komplikasi dan penularan. Sifilis adalah penyakit medis yang bisa disembuhkan sepenuhnya, jadi tidak perlu malu untuk segera mencari bantuan medis.

Artikel Lainnya

Bagikan:

djnand

Dear GOD, Thank you so much for all Your stupid blessing to stupid people like me :)

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.