Mengenal Tanaman Porang, Komoditas Lokal yang Mulai Mendunia karena Potensinya untuk Produk Kecantikan dan Kesehatan

Mengenal Tanaman Porang, Komoditas Lokal yang Mendunia

Pernah mendengar istilah “porang”? Yap, porang sendiri merupakan jenis tanaman liar yang belakangan ini mulai dilirik oleh banyak orang. Alasannya tentu, karena harga jualnya yang memang tergolong cukup tinggi. Dikampung halaman ibu saya (Wonogiri, Jawa tengah), banyak yang bahkan lebih memilih untuk mencari porang ketimbang bertani atau menggarap sawah. Alhasil, banyak pekarangan rumah warga yang kini mulai beralih fungsi menjadi lahan pembibitan.

Manfaat Tanaman Porang untuk Kecantikan dan Kesehatan

Manfaat Tanaman Porang untuk Kecantikan dan Kesehatan

Namun, apa sebetulnya manfaat dari tanaman yang satu ini? Kenapa harga jualnya bisa sedemikian mahal? Dan apa dampaknya, baik bagi kelestarian lingkungan maupun kehidupan sosial ekonomi masyarakat disana? Mari kita coba bahas satu-persatu.

Saat pertama kali mengetahui fenomena ini, satu hal yang langsung terlintas dibenak saya adalah. Apa manfaatnya? Dan kenapa harga jualnya bisa semahal itu? FYI, dikampung halaman ibu saya, satu ikat tanaman porang (sebesar ikatan kangkung) bisa dihargai 50 hingga 150 ribu rupiah. Dan menurut pengakuan warga, dalam sehari mereka bisa mengantongi sedikitnya 250rb dari hasil mencari porang. Sebuah jumlah yang jauh lebih tinggi, dibandingkan hasil yang mereka dapat dengan bertani. Anehnya, banyak diantara mereka yang juga sebetulnya tidak tahu apa manfaat dari tanaman yang satu ini. Kebanyakan dari mereka, hanya ikut mencari karena nilai ekonomisnya yang cukup tinggi. Wajar memang, karena sejak dulu mereka hanya menganggap tanaman ini sebagai gulma alias tumbuhan liar yang biasanya hidup di kawasan hutan atau daerah lereng gunung.

So, satu-satuya cara terbaik untuk mencari tahu, adalah dengan bertanya langsung kepada para pengepulnya. Yap, ada banyak pengepul yang datang dari luar kota (bahkan luar pulau) dan bersedia datang kerumah-rumah warga untuk membeli komoditas lokal yang satu ini. Dan dari salah seorang pengepul, akhirnya saya tahu apa yang membuat tanaman ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Yap, salah satu manfaat tanaman porang ternyata adalah sebagai bahan baku pembuatan produk kosmetik atau kecantikan. Belum jelas memang, produk kosmetik seperti apa yang dimaksud. Dan apakah sudah ada riset atau penelitian lebih lanjut tentang hal ini. Karena menurut mereka, seluruh tanaman porang yang terkumpul ini akan langsung di ekspor ke luar negeri. Tepatnya kesalah satu negara tetangga kita di Asia Timur.  Wow!

Dan yang cukup menarik perhatian saya adalah karena tepung yang berasal dari umbi porang ini ternyata juga dapat digunakan sebagai bahan baku untuk mengolah panganan. Dan jujur, saya bahkan baru tahu kalau Shirataki powder alias tepung Konnyaku yang terkenal itu ternyata berasal dari tanaman porang. Karena seumur-umur, nggak ada warga sekitar yang memanfaatkan tanaman ini untuk dimakan. Alasannya satu, karena tanaman ini cukup gatal di kulit. Padahal di Jakarta, saya tahu betul kalau tepung Konnyaku dijual dengan harga yang cukup mahal karena seringkali diolah menjadi beragam menu diet sehat untuk para penderita kolesterol dan diabetes. Yap, hal ini karena tepung Konnyaku dipercaya mampu menyeimbangkan kadar gula darah dan mengurangi kolesterol.

So, dari 2 poin itu saja, saya dapat langsung memahami kenapa harganya bisa sedemikian mahal.

Dampak Komoditas Porang Terhadap Kelestarian Lingkungan dan Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat

Dampak Komoditas Porang Terhadap Kelestarian Lingkungan dan Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat

Namun pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dampaknya terhadap kelestarian lingkungan maupun kehidupan sosial ekonomi masyarakat disana?

Advertisements

Syukurnya, masyarakat disana tahu kalau komoditas lokal ini suatu saat pasti akan habis jika terus menerus diambili. Maka biasanya, mereka hanya akan mengambil seperlunya saja. Dan tetap membiarkan beberapa batang porang yang mereka temui agar tetap tumbuh di tempat asalnya. Dan alih-alih mengekploitasinya secara berlebihan, mereka justru mengambil bibitnya untuk ditanam di sekitar pekarangan rumah mereka agar terus menjadi komoditas berkelanjutan.

Dan karena tahu pula, kalau tanaman ini memiliki siklus panen yang cukup lama. Sembari mencari porang, mereka masih tetap menggarap sawah. Hanya tidak seharian penuh seperti sebelumnya.

Maka jika ditanya dampaknya bagi kelestarian lingkungan. Kabar baiknya, belum ada dampak negatif yang dirasakan oleh warga sekitar. Hal ini karena mereka memang tidak mengekploitasinya secara berlebih, sekalipun permintaannya cukup tinggi.

Lantas adakah dampaknya bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat disana?

Nah, ini yang menarik. Ditengah kondisi pandemi, kehadiran tanaman porang ternyata justru memberdayakan masyarakat sekitar. Banyak diantara mereka yang bahkan bisa membeli mobil atau membangun rumah berkat adanya komoditas lokal yang satu ini. Sayangnya, hal ini justru luput dari perhatian pemerintah daerah. Padahal kalau saja pemda setempat dapat mengakomodir hal ini. Bisa jadi, misi pemerintah daerah untuk mewujudkan masyarakat sejahtera dapat lebih cepat terealisasi.

Dan itu baru satu contoh saja. Bayangkan, ada berapa banyak komoditas lokal lain yang selama ini dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan produk kecantikan dan kesehatan?

Maka buat kamu yang mungkin sedang membaca postingan ini. Mari tetap tampil cantik dan sehat sembari tetap melestarikan lingkungan. Dengan cara memilih produk kecantikan dan kesehatan yang ramah lingkungan dan ramah sosial.

Mari #LestarikanCantikmu mulai dari sekarang 😀

Advertisements

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer

Sliding Sidebar

Lorem ipsum dolor sit amet et dolore magna. Proin libero nunc consequat interdum varius sit. Sed pulvinar proin gravida hendrerit