Apa Itu Denial? Dan Bagaimana Cara Menghadapinya?

Apa itu Denial dan Bagaimana Cara Menghadapinya

Denial sendiri merupakan bentuk self defense yang dilakukan seseorang untuk memproses sebuah kabar/berita yang mengejutkan. It’s ok if you want to denial something for some reason. Tapi jangan terlalu lama dan jangan jadikan ini sebagai sebuah kebiasaan.

Denial pada sebuah fakta

Misal, jika dalam sebuah pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa kita mengidap sebuah penyakit tertentu yang bisa dikatakan cukup serius. It’s ok untuk tidak langsung mempecayainya. Karena kita butuh waktu untuk mencerna semua informasi tersebut. Bahkan validasi dari dokter atau rumah sakit lain untuk membuktikan hal tersebut. But, jika nyatanya dokter atau rumah sakit lain akhirnya turut mengiyakan kabar tersebut. Adalah hal yang tidak sehat jika kita masih terus menyangkalnya. Alih-alih menyangkalnya, kita bisa memilih untuk segera menghadapinya. Tanyakan pada dokter tersebut, apa yang sebaiknya kita lakukan? tindakan medis apa yang sebaiknya kita jalani? berbahayakah penyakit tersebut? dan apa kemungkinan terburuknya? Dengan begitu, kita dapat menerima penanganan medis sesegera mungkin.

Denial pada sebuah tanggung jawab

Selain menyangkal sebuah fakta, seseorang dapat pula menyangkal sebuah tanggung jawab. Dalam hal finansial misalnya, seseorang yang memiliki gaya hidup yang cukup konsumtif, akan amat beresiko memiliki tagihan kartu kredit yang membengkak. Tak masalah memang, selama kita tahu cara untuk melunasinya. Tapi jika tagihan tersebut telah melewati batas, dan kita masih saja terus berfoya-foya. Hal ini tentu akan cukup berpengaruh pada kondisi finansial kita kedepan. Alih-alih menyangkalnya dan menganggap hal itu masih baik-baik saja, ada baiknya untuk mulai mengurangi kebiasaan buruk kita yang mungkin terlalu konsumtif.

Denial pada dampak dari sebuah tindakan

Disisi lain, seseorang dapat pula menyangkali dampak dari tindakannya sendiri. Ada orang-orang tertentu yang denial terhadap masalahnya dengan cara yang salah. Lari ke alkohol misalnya. Akibatnya ia tidak hanya denial pada masalahnya, namun denial pula pada kebiasaan buruknya. Dimana lambat laun, hal ini dapat membuatnya kecanduan dan ingin terus mengkonsumsinya sekalipun tidak sedang dalam masalah tertentu.

Denial pada perasaan

Dan yang terakhir, seseorang dapat pula denial pada perasaannya sendiri. Seorang isteri/suami yang diselingkuhi misalnya. Akan sangat mungkin menutupi sakit hatinya untuk melindungi perasaan anak-anaknya. Namun pertanyaannya, hingga berapa lama ia mampu melakukannya? Ada luka hati yang perlu ia sembuhkan. Dan satu-satunya cara terbaik untuk menyembuhkannya adalah dengan mulai mengkomunikasikannya dengan sang isteri/suami. Mulailah untuk mencari tahu, apa penyebabnya? mengapa ia melakukan hal tersebut? dan adakah cara terbaik yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya. Belum terlambat untuk menyelesaikan sebuah konflik emosional yang tengah kita hadapi.

Belajar untuk tidak menyakali sebuah fakta, tanggung jawab, dampak dari sebuah tindakan maupun sebuah perasaan bukan berarti mengesampingkan sebuah emosi yang tengah kita rasakan. It’s okay to not be okay. Ada kalanya kita perlu mengakui rasa takut kita, rasa cemas kita, rasa marah kita, bahkan semua emosi negatif lainnya dalam situasi yang tidak dapat lagi kita kontrol. Namun belajarlah untuk tetap menghadapi setiap situasi sulit tersebut dan jangan pernah menyangkalnya.

Jika mungkin, ceritakan pada seorang sahabat yang kamu tahu persis tidak akan menghakimimu. Atau jka dirasa terlalu pribadi, kamu bisa mencurahkannya dalam sebuah jurnal, private note or anything. Namun jika kondisi ini kamu rasa sudah cukup parah, maka ada baiknya untuk mengkonsultasikan hal ini ke seorang psikolog/psikiater. Lalu, mulailah mengambil langkah selanjutnya untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Dan sebaliknya, jika kamu ada pada posisi mengenal seseorang yang tengah denial pada sesuatu hal. Berikan ia waktu untuk menyendiri dan jadilah pendengar yang baik jika ia perlu teman untuk berbagi. Sometimes, yang paling mereka butuhkan bukanlah nasihat kita, namun kehadiran kita. Mereka butuh teman yang bersedia untuk mendengar tanpa berusaha untuk menghakimi.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer